Sorotan:
- Prevalensi stunting nasional turun jadi 19,8% (SSGI 2024), dari 21,5% (2023)
- Sumatera Utara termasuk 6 provinsi dengan jumlah balita stunting terbanyak secara absolut
- Labuhanbatu Utara mencatat prevalensi stunting 7,3% pada 2022 — terendah se-Sumatera Utara dan peringkat ke-4 terbaik nasional (SSGI)
- Keluarga buruh harian kebun sawit punya risiko ekonomi yang berkorelasi dengan kerentanan gizi anak — meski belum ada studi khusus yang mengukur ini langsung di Labuhanbatu Utara
Stunting — kondisi gagal tumbuh akibat kekurangan gizi kronis pada anak — masih jadi masalah kesehatan masyarakat di Sumatera Utara, termasuk di wilayah-wilayah yang ekonominya bergantung pada perkebunan kelapa sawit seperti Labuhanbatu Utara. Berikut rangkuman data resminya, plus alasan keluarga buruh kebun sawit kerap masuk kelompok rentan.
🔖 Simpan artikel ini sebagai referensi pemantauan gizi anak.
Apa Kata Data Nasional dan Sumatera Utara?

Survei Status Gizi Indonesia (SSGI) 2024 yang dirilis Kemenkes mencatat prevalensi stunting nasional turun dari 21,5% pada 2023 menjadi 19,8% pada 2024. Pemerintah menargetkan angka ini turun lagi ke 14,2% pada 2029 sesuai RPJMN.
Untuk angka tingkat provinsi, datanya perlu dibaca hati-hati karena survei nasional yang berbeda kadang menunjukkan hasil yang tidak sama. SSGI 2024 mencatat Sumatera Utara punya sekitar 316.456 balita stunting secara absolut, masuk enam provinsi dengan jumlah balita stunting terbanyak di Indonesia bersama Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, NTT, dan Banten. Sementara itu, Survei Kesehatan Indonesia (SKI) 2023 mencatat prevalensi Sumut di angka 18,9% — turun dari 21,1% versi SSGI 2022 dan di bawah rata-rata nasional. Karena metodologi SSGI dan SKI berbeda, angka persentase provinsi dari kedua survei ini tidak selalu bisa dibandingkan langsung, sehingga data tingkat kabupaten — seperti Labuhanbatu Utara di bawah — jadi acuan yang lebih relevan untuk konteks lokal.
Bagaimana Posisi Labuhanbatu Utara?

Labuhanbatu Utara (Labura) justru jadi salah satu contoh yang sering disorot media karena kemajuannya. Berdasarkan laporan Waspada.id, Pemkab Labura mencatat penurunan stunting 7,3 poin persen pada 2022, membawa prevalensinya ke 7,3% — terendah se-Sumatera Utara untuk tahun itu — dan meraih peringkat keempat terbaik secara nasional menurut SSGI. Wakil Bupati Labura saat itu, Samsul Tanjung, mengingatkan agar pencapaian itu tidak membuat lengah karena angka stunting bisa naik kembali. Laporan Republika ID juga secara terpisah menyebut Labuhanbatu Utara sebagai satu dari sedikit kabupaten/kota nasional dengan penurunan prevalensi stunting paling besar, sejajar dengan Pamekasan, Pohuwato, dan Kota Surabaya — dua sumber independen yang saling menguatkan.
Salah satu pendorongnya adalah program “GASPOLT LABURA BESTIE” — gerakan bersama polisi dan TNI untuk mewujudkan Labuhanbatu Utara bebas stunting, lewat pemantauan rumah ke rumah tanpa pemberitahuan sebelumnya, plus pengukuran dan penimbangan berkelanjutan setiap pekan. Pemerintah daerah juga menjalankan pendataan kependudukan door-to-door lewat Dinas Dukcapil agar warga yang belum punya NIK bisa mengakses BPJS dan layanan kesehatan — sebuah hambatan administratif yang sering dialami pekerja informal, termasuk buruh kebun.
Perlu dicatat, Labuhanbatu Utara adalah kabupaten yang berbeda dari kabupaten induknya, Labuhanbatu. Data dari kabupaten tetangga ini juga relevan sebagai pembanding regional: dokumen Dinas P2KB Labuhanbatu mencatat prevalensi stunting di Kabupaten Labuhanbatu turun dari 27% (SSGI 2021) menjadi 23,9% (SSGI 2022), dengan target lanjutan turun ke 19,53% pada 2023. Program lokalnya, Bapak/Bunda Asuh Anak Stunting (BAAS), bahkan melibatkan perusahaan sawit setempat (PT Hari Sawit Jaya) yang menyalurkan bantuan pangan langsung ke desa-desa lokus stunting.
Mengapa Anak Buruh Kebun Sawit Sering Disebut Rentan?

Klaim “anak buruh kebun sawit paling rentan kekurangan gizi” perlu didudukkan secara hati-hati: sejauh penelusuran kami, belum ada studi yang secara spesifik mengukur prevalensi stunting pada anak buruh sawit di Labuhanbatu Utara. Namun ada pola ekonomi yang konsisten ditemukan di sentra-sentra perkebunan sawit Sumatera, yang secara teori memang berkorelasi dengan risiko gizi.
Liputan investigatif Project Multatuli tentang buruh perkebunan sawit di Sumatera Utara — termasuk yang bekerja di perusahaan-perusahaan sekitar Labuhanbatu — mendokumentasikan ribuan buruh yang masih berstatus pekerja temporer/harian, bukan tetap, dengan akses terbatas ke jaminan kesehatan dan tunjangan. Status kerja informal seperti ini umumnya berarti pendapatan tidak stabil, salah satu determinan klasik kerawanan gizi rumah tangga.
Riset nasional soal pekerja anak di sektor sawit, yang ditulis peneliti BRIN, juga mencatat upah rendah buruh dewasa dan tuntutan target produksi membuat sebagian keluarga melibatkan anak untuk bekerja demi tambahan penghasilan — bukan untuk memperbaiki gizi, tapi justru karena tekanan ekonomi. Pola ini ditemukan di berbagai provinsi sentra sawit, bukan khusus Labuhanbatu Utara, sehingga sebaiknya dibaca sebagai konteks nasional, bukan data lokal yang terverifikasi.
Singkatnya: rumah tangga buruh harian kebun sawit memang punya faktor risiko ekonomi yang relevan dengan gizi anak, tapi mengklaim mereka “paling rentan” secara definitif di Labuhanbatu Utara butuh data SSGI tingkat rumah tangga yang lebih granular, yang belum tersedia secara publik.
Apa yang Sudah Dilakukan Pemerintah dan Swasta?

Beberapa intervensi yang sudah berjalan di wilayah Labuhanbatu dan sekitarnya:
| Program | Pelaksana | Fokus |
|---|---|---|
| GASPOLT LABURA BESTIE | Pemda Labuhanbatu Utara + TNI/Polri | Pemantauan rumah ke rumah, penimbangan rutin |
| Pendataan NIK door-to-door | Dinas Dukcapil Labuhanbatu Utara | Akses BPJS dan layanan kesehatan |
| Bapak/Bunda Asuh Anak Stunting (BAAS) | Pemkab Labuhanbatu + TPPS | Pendampingan keluarga berisiko stunting |
| Bantuan pangan lokus stunting | PT Hari Sawit Jaya + Pemkab Labuhanbatu | Distribusi pangan ke desa prioritas |
| Intervensi spesifik & sensitif gizi | Kemenkes (program nasional) | Tablet tambah darah, PMT, ASI eksklusif, Posyandu |
Apa yang Bisa Dilakukan Keluarga Buruh Kebun Sawit?

Beberapa langkah praktis yang konsisten dianjurkan Kemenkes dan WHO untuk pencegahan stunting, terlepas dari profesi orang tua:
- Pastikan ASI eksklusif 6 bulan pertama, lalu lanjutkan MPASI bergizi seimbang.
- Rutin menimbang dan mengukur tinggi anak di Posyandu setiap bulan.
- Segera urus NIK dan BPJS bila belum punya, supaya akses ke Puskesmas tidak terhambat administrasi.
- Manfaatkan program bantuan pangan dan PMT yang tersedia di desa lokus stunting.
- Periksakan anak ke dokter atau bidan bila pertumbuhannya tampak tidak sesuai kurva usia.
Konsultasikan dengan dokter anak atau Puskesmas setempat sebelum mengambil keputusan terkait gizi atau tumbuh kembang anak Anda. Artikel ini bersifat informasi umum, bukan diagnosis individual.
Pertanyaan yang Sering Diajukan
Apa itu stunting?
Stunting adalah kondisi gagal tumbuh pada anak akibat kekurangan gizi kronis dalam waktu lama, ditandai tinggi badan yang jauh lebih rendah dari standar usianya.
Apakah Labuhanbatu Utara termasuk daerah stunting tinggi?
Justru sebaliknya — Pemkab Labuhanbatu Utara mencatat prevalensi stunting 7,3% pada 2022 (terendah se-Sumatera Utara saat itu) dan peringkat keempat terbaik nasional menurut SSGI, menurut laporan Waspada.id yang juga dikonfirmasi laporan Republika ID. Meski begitu, pemerintah daerah tetap mengingatkan agar capaian ini tidak membuat lengah.
Apakah anak buruh kebun sawit otomatis berisiko stunting?
Tidak otomatis. Status ekonomi buruh harian memang menjadi salah satu faktor risiko gizi rumah tangga secara umum, tapi tidak ada data spesifik yang menyebut anak buruh sawit di Labuhanbatu Utara “paling rentan” dibanding kelompok pekerjaan lain di wilayah yang sama.
Baca Juga
Pemantauan gizi sebaiknya berjalan bersama upaya kesehatan anak lainnya. Untuk pencegahan penyakit tidak menular sejak dini, baca juga artikel kami soal mencegah diabetes pada anak. Selain gizi, imunisasi juga penting — simak ulasan kami tentang vaksin HPV pada anak untuk perlindungan jangka panjang.



