Ringkasan Cepat:
- Survei Status Gizi Indonesia (SSGI) 2024 mencatat prevalensi stunting nasional 19,8%, turun dari 21,5% pada 2023
- Setara sekitar 1 dari 5 balita Indonesia, atau sekitar 4,48 juta anak, mengalami stunting
- Sumatera Utara justru naik ke 22% pada 2024, di atas rata-rata nasional
- Pencegahan paling efektif ada di jendela 1000 Hari Pertama Kehidupan (HPK)
Jakarta, 16 Juli 2026 — Satu dari lima balita Indonesia masih mengalami stunting. Data Survei Status Gizi Indonesia (SSGI) 2024 dari Kementerian Kesehatan RI (Kemenkes) mencatat prevalensi nasional turun ke 19,8%, angka terendah dalam sejarah pencatatan, namun tetap menyisakan pekerjaan rumah besar bagi jutaan keluarga.
Apa Kabar Angka Stunting Indonesia Sekarang?

Prevalensi stunting nasional tercatat 19,8% pada 2024, turun 1,7 poin dari 21,5% di tahun 2023. Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin menyebut ini pertama kalinya angka stunting Indonesia turun di bawah 20% dalam sejarah pencatatan modern.
Secara absolut, angka ini setara sekitar 4,48 juta balita. Kepala Badan Kebijakan Pembangunan Kesehatan Kemenkes, Prof. Asnawi Abdullah, menyebut capaian SSGI 2024 berhasil mencegah ratusan ribu kasus stunting baru dibanding tren sebelumnya. Meski begitu, pemerintah menargetkan penurunan lebih tajam lagi ke 18,8% pada 2025, menuju target jangka panjang 14,2% pada 2029 dan 5% pada 2045 — angka yang sejalan dengan standar kesehatan masyarakat WHO.
Yang perlu dicatat: SSGI tidak dilaksanakan sepanjang 2025, sehingga angka resmi berikutnya baru akan terbit pada 2026. Artinya, 19,8% masih menjadi rujukan nasional untuk saat ini.
Kenapa Setengah Kasus Stunting Terpusat di 6 Provinsi?

Sekitar separuh dari seluruh kasus stunting nasional terkonsentrasi di enam provinsi: Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, Sumatera Utara, Nusa Tenggara Timur, dan Banten. Jawa Barat mencatat penurunan terbesar tahun ini, lebih dari 5 poin persentase, sementara provinsi lain butuh percepatan tambahan.
Sumatera Utara justru menunjukkan tren berlawanan. Setelah turun dari 32,4% (2018) menjadi 18,9% (2023), prevalensi provinsi ini naik kembali ke 22% pada 2024 — di atas rata-rata nasional, dengan sekitar 294.934 balita terdampak. Tujuh dari 33 kabupaten/kota di provinsi ini masih mencatat prevalensi di atas 30%, meski Kabupaten Labuhanbatu Utara sempat tercatat sebagai wilayah dengan penurunan tercepat se-Sumatera Utara berdasarkan data SSGI sebelumnya — bukti bahwa capaian di tingkat kabupaten bisa jauh berbeda dari tren provinsi.
Kesenjangan semacam ini menegaskan bahwa strategi satu ukuran untuk semua wilayah tidak lagi memadai.
Apa Sebenarnya Stunting, dan Kenapa Berbahaya?

Menurut definisi WHO, stunting adalah gangguan pertumbuhan pada anak akibat kekurangan gizi kronis, ditandai tinggi badan menurut umur berada di bawah -2 standar deviasi dari median populasi rujukan. Kondisi ini paling banyak terbentuk pada 1000 Hari Pertama Kehidupan (HPK) — dihitung sejak masa kehamilan (270 hari) hingga anak berusia dua tahun (730 hari).
Dampaknya tidak berhenti di tinggi badan. Dalam seminar media IDAI, dokter spesialis anak dari Unit Kerja Koordinasi Nutrisi dan Penyakit Metabolik menjelaskan bahwa kekurangan gizi kronis pada periode emas ini dapat mengganggu perkembangan otak, sehingga berdampak pada kemampuan kognitif dan kesulitan belajar anak di kemudian hari. IDAI juga mengingatkan orang tua untuk waspada bila berat badan bayi tidak naik selama dua bulan berturut-turut, karena ini bisa menjadi tanda awal risiko stunting.
Bagaimana Cara Mencegahnya?

Pemerintah membagi strategi pencegahan menjadi dua jalur intervensi selama 1000 HPK: intervensi gizi spesifik dan intervensi gizi sensitif. Berdasarkan kajian akademik yang merujuk data Kemenkes, kontribusi intervensi spesifik terhadap penurunan stunting diperkirakan sekitar 30%, sementara intervensi sensitif menyumbang porsi lebih besar, sekitar 70%.
Intervensi gizi spesifik menyasar langsung ibu hamil, ibu menyusui, dan anak usia 0-23 bulan, meliputi:
- Pemberian tablet tambah darah dan pemeriksaan Hb pada ibu hamil
- ASI eksklusif untuk bayi usia 0-6 bulan
- Pemberian MP-ASI bergizi seimbang untuk anak usia 6-23 bulan
- Pemberian Makanan Tambahan (PMT) bagi balita berisiko kurang gizi
- Suplementasi vitamin A pasca-persalinan bagi ibu
Intervensi gizi sensitif dilakukan lintas sektor di luar bidang kesehatan — mulai dari akses air bersih dan sanitasi, pengentasan kemiskinan, hingga edukasi pola asuh. Pilihan pangan harian di rumah juga berperan; beberapa jenis makanan justru sebaiknya dihindari karena berisiko mengganggu asupan gizi anak, sementara asupan seperti vitamin C mendukung proses tumbuh kembang yang optimal. Menjaga sistem imun anak tetap kuat turut membantu mengurangi episode infeksi berulang yang bisa memperberat risiko gagal tumbuh.
Program Makan Bergizi Gratis, Sudah Sejauh Mana?

Salah satu andalan intervensi gizi sensitif tahun ini adalah Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang menyasar anak usia sekolah dan balita di posyandu. Namun implementasinya belum mulus. Kendala logistik MBG yang belum tuntas sempat mengancam pemerataan asupan gizi bagi jutaan anak di berbagai daerah, menegaskan bahwa niat baik kebijakan perlu diikuti eksekusi rantai pasok yang rapi agar benar-benar sampai ke balita yang membutuhkan.
Deputi Kemenko PMK juga menyoroti pentingnya mengaitkan data status gizi dengan peta kerawanan pangan, khususnya untuk memperkuat intervensi akses pangan di kelompok usia 12-36 bulan — rentang usia yang menurut data terbaru justru menunjukkan tren kenaikan prevalensi stunting.
Apa Selanjutnya?

Tanpa SSGI 2025, pemerintah mengandalkan publikasi data intervensi stunting triwulanan sebagai penanda arah sementara, dengan hasil triwulan IV dijadwalkan terbit awal 2026. Target resmi berikutnya — 18,8% untuk 2025 dan 14,2% untuk 2029 — baru bisa dikonfirmasi saat SSGI kembali dilaksanakan tahun depan.
Bagi orang tua, jendela pencegahan yang paling menentukan tetap sama: seribu hari pertama kehidupan anak. Pemantauan rutin ke posyandu atau puskesmas, konsumsi gizi seimbang, dan kewaspadaan terhadap tanda-tanda gagal tumbuh menjadi langkah paling realistis yang bisa dilakukan setiap keluarga hari ini.
Disclaimer: Artikel ini bersifat informasi umum. Konsultasikan dengan dokter anak untuk evaluasi tumbuh kembang dan status gizi anak secara individual.
Artikel ini ditulis oleh Crystal untuk Persatuan Ahli Gizi Anak (PAGA) Kabupaten Labuhan Batu Utara.



